Untuk beberapa mahasiswa, khususnya yang nggak aktif di kegiatan organisasi atau nggak punya kegiatan lain selain kuliah, waktu mereka banyak dihabiskan di kos-kosan. Ini berarti kos-kosan yang mereka tinggali harus nyaman dan sesuai dengan keinginan, agar mereka betah lama-lama di kos.

Standart nyamannya orang dalam mencari kos-kosan itu beda-beda. Misalnya gue dan temen gue. Pengalaman ini gue dapetin pas kemarin pindah kos-kosan.

Gue nyaman di kos yang ada wifinya, harga murah, suasananya tenang nggak berisik, tembok kamar warnanya harus putih, dan ada ibu kos yang siap ngebangunin ketika ada kuliah pagi.

Sedangkan temen gue, nyaman di kos-kosan yang ada wifinya, suasanya ramai, dan nggak ada ibu kos (penjaganya). Beda banget kan sama selera nyamannya gue.

Jadi, dalam mencari kos, gue nyari kos-kosan yang ada wifinya, harga murah, suasana kos tenang, tembok kamar berwarna putih, dan ada ibu kosnya. Saat gue cari kos-kosan yang kriterinya gitu, susahnya minta kawin ampun.

Satu kos gue datengin. Ada wifinya, suasananya tenang, tembok kamarnya berwarna putih, ada ibu kosnya, tapi harganya selangit: gue tinggalin, jelas.

Pindah ke kos berikutnya. Wifinya kenceng, tembok kamarnya berwarna putih, ada ibu kosnya, tapi suasananya kayak konser boyband Shinee pas adegan Choi Minho pamer sixpack perutnya ke penonton. Berisik banget. Langsung gue coret dari nominasi calon kos-kosan.

Pindah lagi ke kos berikutnya. Ada wifinya, harganya murah, warna tembok kamar putih, suasananya tenang, ada ibu kosnya yang baik. Cocok, sesuai banget sama kriteria kos-kosan yang gue cari. Tapi ketika mau daftar jadi penghuni kos, gue malah diusir sama pemilik kos. Ternyata itu kos-kosan khusus cowok.

Lelah gue cari kos-kosan yang nyaman. Cari kos aja lelah, gimana cari jodoh? Skip.

Dua temen gue yang nemenin gue dalam mencari kos-kosan, Arina dan Titis, hampir menyerah. Mereka mengibarkan kancut putih masing-masing, tanda menyerah dalam mempartnerin gue mencari kos-kosan. Alhasil, gue juga ikut mengibarkan kancut putih. Akhirnya pilihan gue jatuh pada kos-kosan yang wifinya kenceng, ibu kosnya baik, suasananya damai, meskipun warna temboknya pink, bukan putih.

Sebelum mendapatkan kos tersebut, gue udah muter satu Tembalang (daerah kampus) dan nggak ada kos yang cocok. Paling cocok adalah kos tembok pink tadi.

Setelah gue pindah ke kos baru tersebut, banyak hujatan menerpa gue mengenai kos-kosan yang baru ini.

“Rih lo nggak pantes tinggal di kosan warna pink imut gini.”
“Tampang begal kayak lo nggak pantes tidur di kamar princess gini Rih.”
“Kamar ini nggak Farih banget deh. Pindah gih. Huss huss.”
“Ini kamar kos atau Naughty Rih? Pink banget.”

Dear kawan, SIAPA JUGA YANG MAU TINGGAL DI KAMAR KOS PINK INI??! Nyari kos-kosan susah woyy!

Gue sadar, nggak ada kos-kosan yang sempurna, seperti yang kita mau. Jadi kita harus nyingkirin beberapa kriteria nyaman yang awalnya kita patokin buat nyari kos. Kayak gue misalnya. Capek-capek nyari kos-kosan ujung-ujungnya tinggal di kos-kosan yang warna cat temboknya nggak putih, nggak sesuai sama apa yang gue harapkan.

Oh iya, dari tadi gue ngomongin soal kos-kosan ngalur ngidul, ada nih situs buat nyari kamar kos yang sesuai sama kriteria nyaman kalian dalam menentukan kos-kosan. Jadi kita nggak perlu lagi capek-capek muter cari kos-kosan. Bahkan buat yang nggak berani tidur sendirian (biasanya cewek-cewek manja), bisa juga nemuin temen sekamar di situs ini. Nama situnya adalah serumah.com.

Di serumah.com, kalian juga bisa mengiklankan kamar sewa atau kos-kosan. Cocok nih buat juragan kos. Cek aja langsung situsnya.

Btw, sampai sekarang gue masih ada niatan buat pindah kos. Cari kos yang cat temboknya berwarna putih. Ntar deh, kalau nggak sibuk dan nggak males ngangkutin barang. Ya gitu, susah nyari kos-kosan nyaman 100%.


SIGN INTO YOUR ACCOUNT CREATE NEW ACCOUNT

 
×
CREATE ACCOUNT ALREADY HAVE AN ACCOUNT?
 
×
FORGOT YOUR DETAILS?
×

Go up